Change The Language

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch RussianPortugueseJapaneseKoreanArabicChinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2014

www.fendikur.tk
the cerita story
Hoaaammm…
Octo masih mengantuk ketika Ibu membangunkan Octo dari tidurnya, “ayo Octo, bangun. Kamu tidak mau terlambat kan di hari pertamamu ke sekolah?”
Octo, gurita merah kecil itu hanya mengeliat dan mengubah posisi tidurnya sambil bergumam kepada ibunya, “lima menit lagi, Bu. Octo masih ngantuk.”
Ibu Octo menggeleng-gelengkan kepalanya. Octo, gurita kecilnya ini sudah dari tadi dibangunkan.

Kebiasaan tidurnya yang sampai siang ini harus diubah karena Octo akan memasuki sekolah pertamanya dan tentunya akan bersekolah hampir setiap hari. Ibu Octo sudah berusaha membangunkan Octo dengan cara yang lembut, yaitu hanya mengguncangkan tubuh Octo sedikit dan menyuruhnya bangun. Tetapi sepertinya cara itu tidak mempan bagi Octo-nya, dan Octo pun selalu mengeluhkan “lima menit lagi, Bu”. Kalau sudah begini, saatnya menggunakan cara lebih keras.
“Baiklah gurita kecilku. Jika kamu memang tidak ingin sekolah, kamu bukanlah anak Ibu lagi. Silahkan kamu cari Ibu baru di luar sana!” ancam Ibu Octo. Ya, itulah cara kerasnya, hanya sebuah ancaman. Tetapi jangan salah, ancaman tersebut mampu membuat Octo bangun 100% dari tidurnya dan langsung menghadap ibunya. “Baiklah, Ibu. Octo sudah bangun dan akan siap-siap pergi ke sekolah.” kata Octo panik. Octo memandang Ibunya dengan tatapan memelas, “Octo masih anak Ibu kan?” tanya Octo polos. “Octo tidak mau cari Ibu lain. Octo cuma sayang Ibu.” sambungnya lagi seperti ingin menangis.

Ibu Octo hanya tersenyum dan memeluk anaknya, “Iya, Octo tetap anak ibu. Tetapi harus janji, mulai sekarang Octo harus lebih rajin bangun pagi dan pergi ke sekolah. Janji?”
Octo kecil mengangguk dan menjawab, “Octo janji, Bu.”
“Sekarang Octo siap-siap ya. Karena ini hari pertama, Ibu akan menemani Octo berenang ke sekolah. Hari berikutnya Octo berenang dengan teman-teman baru Octo ya.”
“Baiklah, Bu.” Octo lalu pergi bersiap-siap untuk ke sekolah.

Hari pertama Octo pergi ke sekolah. Ternyata banyak juga yang bersekolah disini. Pasti banyak teman baru nih, pikir Octo. Hewan-hewan laut lainnya juga berenang bersama induknya masing-masing.
Ketika perkenalan di kelas, Octo memperkenalkan dirinya dengan suara yang keras, “nama saya Octo. Saya gurita merah. Saya datang ke sekolah ini bersama Ibu saya.” Seraya menunjuk Ibu nya yang sedang duduk. Teman-teman yang lain bertepuk tangan dan Octo merasa bangga akan hal itu.
Hari ini hanya perkenalan saja. Dalam waktu yang singkat Octo sudah mendapat teman baru, seperti Squid si cumi-cumi, Clam si kerang dan banyak lagi yang lain.

Hari-hari Octo, Si gurita merah kecil berlanjut. Octo mulai menikmati bersekolah. Dia termasuk hewan yang aktif dan juga cerdas di kelasnya. Setiap tugas yang diberikan oleh gurunya dapat dia selesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi hal tersebut membuat Octo sombong. Dia tidak mau mengajari temannya yang meminta bantuan kepadanya.

Ceritanya seperti ini.

Rabu, 09 November 2011

The Fox and The Cat

From Aesop Fables
A fox and a cat were out walking together when the fox began boasting how clever he was.
“I’m prepared for any situation” said the Fox. “I have a whole bag of tricks to choose from if my enemies try to capture me.”
“I’m afraid I’ve only got one trick, but it has always worked for me” The cat said timidly.
The fox looked at the cat and shook his head “One trick, how dumb is that? I’ve got hundreds of ways of escaping” said the fox.
“I still think it’s better to have one trick that works than waste time trying to choose from a dozen that might” said the cat softly.
“Rubbish” shouted the fox. “You’re just not as smart as me”
Just then they heard a pack of dogs barking as they coming towards them. The cat immediately ran up the nearest tree and hid on one of the highest branches.
“That’s my trick” the cat called from high up in the tree. “You had better reach into that bag of tricks of yours and choose one right now or you’re history”
“Ok, Ok, stay calm” said the fox to himself.
“Should I run and hide behind the nearest hedge?
Or should I jump down a burrow?”
The dogs were getting closer and closer.
“Down a burrow that’s the way to go” said the fox, and started running around the field looking for a burrow.
“No, that one’s too small, I can’t get down far enough. This one’s too big, they could get down too. Maybe that one over there?”
Too late. While the fox wasted time, confused by so many choices, the dogs caught him and killed him.
The cat looked down sadly and said, “It’s better to have one safe way than a hundred you can’t choose from.”
THE END

Selasa, 18 Oktober 2011

Akhir Riwayat Sang Lutung

Seekor lutung (kera hitam) berjalan terseok-seok di pasir. Akibat jatuh dari pohon, tubuhnya menjadi lemah tak bertenaga. Ia lapar sekali, sementara hutan masih jauh. Dengan memaksa diri, ia tiba di tepi muara sungai. Ia minum dengan rakusnya. "Kenapa kamu pucat lutung? Kamu sakit payah?" tegur seekor ayam hutan besar yang mematuk-matuk udang di tepi muara. "Ya, tolong terbangkan aku ke hutan di seberang muara ini," pinta lutung. Ayam hutan merasa iba dan setuju, ia terbang membawa lutung yang berpegangan erat di kakinya.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Monyet dan Ayam

Pada suatu zaman, ada seekor ayam yang bersahabat dengan seekor monyet. Si Yamyam dan si Monmon namanya. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si Monmon yang suka semena-mena dengan binatang lain. Hingga, pada suatu petang si Monmon mengajak Yamyam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang, si Monmon mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Yamyam dan mulai mencabuti bulunya. Yamyam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. “Lepaskan aku, mengapa kau ingin memakan sahabatmu?” teriak si Yamyam. Akhirnya Yamyam, dapat meloloskan diri.

Kamis, 28 Juli 2011

Ayam Dan Sapi

22452-bigthumbnail
“Kenapa sih”, kata seorang kaya pada pelayannya, “Orang-orang mengataiku pelit. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya pada yayasan sosial dan panti asuhan?”